Perkembangan Bahasa

2 Jul

Spesial artikel buat para guru, sebagai referensi dalam mencetak generasi unggul dan berkarakter

Bahasa merupakan media komunikasi yang digunakan untuk mengungkapkan pesan dengan menggunakan simbol-simbol bahasa yang disepakati bersama. Dengan mempelajari perkembangan bahasa anak, Anda diharapkan dapat berkomunikasi dengan peserta didik secara efektif, serta memahami aspek perkembangan anak mengenai apa yang dirasakan dan diinginkan mereka melalui pengungkapannya melalui media bahasa. Melalui subunit perkembangan bahasa ini, marilah kita kaji tentang pengertian, fungsi dan keterampilan bahasa, pola perkembangan bahasa anak, serta faktor/kondisi dan kendala dalam mempelajari keterampilan berbahasa pada peserta didik usia SD/MI.

Pengertian, Fungsi, dan Keterampilan Berbahasa

Menurut para ahli, bahasa merupakan media komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan (pendapat, perasaan, dll) dengan menggunakan simbol-simbol yang disepakati bersama, kemudian kata dirangkai berdasarkan urutan membentuk kalimat yang bermakna, dan mengikuti aturan atau tata bahasa yang berlaku dalam suatu komunitas atau masyarakat (Sinolungan, 1997; Semiawan, 1998). Sebagai media atau alat komunikasi, bahasa dibedakan atas bahasa lisan, bahasa tertulis, dan bahasa isyarat. Menurut Owen 1996 (Semiawan, 1989) bahasa sebagai sistem yang kompleks dapat dipahami dengan baik apabila dipilah-pilah ke dalam komponen-komponen yang fungsional.

Ada tiga komponen utama bahasa yaitu: (1) bentuk atau form yang mencakup sintaksis, morfologi, dan fonologi; (2) isi atau content yang meliputi makna atau semantik; dan (3) penggunaan atau use yang mencakup pragmatik. Dengan kata lain, di dalam bahasa terkandung lima elemen, yaitu: fonologi,morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Morfologi berkenaan dengan organisasi kata-kata secara internal, ada kata yang dapat berdiri sendiri (buku, anak, sekolah, dll) dan tidak dapat berdiri sendiri (awalan ber, me , di dll). Sintaksis berkenaan dengan aturan-aturan dalam pembentukan kata dan kalimat (memiliki subjek, predikat, dan objek). Fonologi berkenaan dengan ketentuan yang mengatur struktur, distribusi dan urutan bunyi, serta bentuk ucapan. Semantik berkenaan dengan sistem aturan yang mengendalikan makna isi kata atau kalimat. Pragmatik berkenaan dengan penggunaan bahasa yang dikaitkan dengan tujuan tertentu.

Keterampilan berbahasa memiliki empat aspek atau ruang lingkup yaitu keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan mendengarkan di sekolah dasar meliputi kemampuan memahami bunyi bahasa, perintah, dongeng, drama, petunjuk, denah, pengumuman, berita, dan konsep materi pelajaran. Keterampilan berbicara meliputi kemampuan mengungkapkan pikiran, perasaan dan informasi secara lisan mengenai perkenalan, tegur sapa, pengenalan benda, fungsi anggota tubuh, kegiatan bertanya, percakapan, bercerita, deklamasi, memberi tanggapanpendapat/saran, dan diskusi. Keterampilan membaca meliputi keterampilan memahami teks bacaan melalui membaca nyaring, membaca lancar, membaca puisi, membaca dalam hati, membaca intensif dan sekilas. Keterampilan menulis meliputi kemampuan menulis permulaan, dikte, mendeskripsikan benda, mengarang, menulis surat, undangan, dan ringkasan paragraf (Depdiknas, 2006).

Karena bahasa digunakan sebagai alat atau media komunikasi dengan sesama manusia, maka perkembangan kemampuan berbahasa turut mempengaruhi penyesuaian sosial dan pribadi anak. Dengan dapat berbahasa khususnya berbicara, maka anak dapat mengungkapkan kebutuhan dan keinginannya, mendapat perhatian dari orang lain, menjalin hubungan sosial sekaligus penilaian sosial dari orang lain, dapat menilai diri sendiri berdasarkan masukan atau penilaian orang lain terhadap dirinya, serta mempengaruhi perasaan, pikiran dan perilaku orang lain.

Perkembangan kemampuan atau keterampilan bahasa erat kaitannya dengan perkembangan kemampuan berpikir seseorang. Komunikasi berarti pertukaran pikiran dan perasaan. Agar dapat berkomunikasi dengan baik, maka anak harus menggunakan bahasa yang bermakna bagi orang yang diajak berkomunikasi. Sebaliknya, anak pun harus memahami bahasa yang digunakan orang lain. Oleh karena itu diperlukan kemampuan berbahasa yang jelas dan dapat dipahami oleh orang lain. Pikiran dan perasaan yang ingin diungkapkan, diekspresikan dengan menggunakan bahasa sebagai sarananya. Berbicara juga berkenaan dengan pemahaman terhadap apa yang dikatakan atau dibicarakan. Apabila anak tidak dapat menggunakan bahasa dengan baik dan jelas, maka ia akan mengalami kesulitan mengungkapkan apa yang dipikir dan dirasakannya. Demikian juga, apabila pikiran anak kacau, maka bahasa yang digunakan juga kacau. Belajar berkomunikasi dengan menggunakan bahasa secara lisan, tulisan, maupun isyarat merupakan suatu proses yang panjang dan rumit,. Kegiatan belajar bahasa ini akan efektif apabila anak siap atau matang untuk belajar bahasa.

Pola Perkembangan Bahasa Anak

Perkembangan bahasa anak sebagai alat atau media komunikasi telah dimulai sejak. Bentuk bahasa atau prabicara yang paling sederhana dan digunakan pada masa bayi dengan ”menangis” untuk mengungkapkan perasaan dirinya kepada oarang lain, kemudian berkembang dalam bentuk ”celoteh atau ocehan” dengan cara mengeluarkan bunyi yang belum jelas. Kemudian, dilanjutkan dengan menggunakan isyarat melalui gerakan anggota badan yang berfungsi sebagai pengganti atau pelengkap bicara. Apabila anak sudah siap atau matang untuk belajar berbicara, maka sebaiknya tidak lagi menggunakan bentuk komunikasi prabicara karena akan mmenghambat perkembangan belajar berbahasa pada anak, sekaligus merugikan penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak dikatakan siap atau matang berbicara dan belajar bahasa apabila aspek motorik bicara (koordinasi otot bicara) dan aspek mental bicara (kemampuan berpikir) anak sudah mulai berfungsi dengan baik. Berbicara atau kegiatan berbahasa lainnya merupakan keterampilan yang dapat dipelajari.

Pola belajar bicara dan berbahasa untuk semua anak pada umumnya sama, meskipun laju perkembangannya berbeda. Pola perkembangan bicara hampir sejalan dengan perkembangan motorik. Sekitar usia satu tahun, biasanya anak mulai belajar berjalan sekaligus belajar bicara. Tugas pertama belajar bahasa adalah mengucapkan kata yang didengar dengan cara meniru pengucapan kata orang-orang di sekitarnya.

Pada saat anak mulai masuk sekolah, di mana hasrat untuk belajar dan ingin tahu besar, merupakan masa yang paling baik untuk belajar bahasa. Anak selalu bertanya mengenai segala yang dilihat dan ditemui dalam kehidupan sehari-harinya. Anak mulai membangun kosa kata atau menambah perbendaharaan kata-katanya. Kosa kata anak biasanya kata-kata yang merupakan kata benda, kata kerja, kata sifat, kata keterangan, kata perangkai atau pengganti dari apa saja yang dijumpai anak dalam kehidupan sehari-hari, khususnya mengenai warna, waktu, uang, dan kata populer yang digunakan kelompok anak atau teman sebaya. Selanjutnya perkembangan bahasa dengan pembentukan kalimat, dimulai dari kalimat sederhana yang belum lengkap menjadi kalimat yang semakin lengkap.

Semakin awal anak dapat bicara, maka semakin banyak waktu berlatih yang mereka peroleh untuk berlatih bicara, dan semakin besar pula kemudahan mereka berbicara dan meningkatkan rasa percaya dirinya. Anak yang terlambat bicara, biasanya juga mengalami hambatan dalam penyesuaian diri dan sosialnya. Ketika anak mulai dapat berbicara, mereka hampir berbicara tidak putus-putusnya. Anak bukan hanya berbicara dengan orang lain, kadang mereka bicara dengan dirinya sendiri atau berbicara dengan boneka atau alat permainannya.

Seiring dengan pertambahan usia anak, kemampuan berbicara atau berbahasanya semakin baik. Anak membicarakan banyak hal berkenaan dengan kegiatan bermain, belajar, dan kegiatan lain yang disenanginya. Isi pembicaraan anak pada umumnya dapat diklasifikasikan menjadi dua. Pertama, kegiatan berbicara yang berpusat pada diri sendiri (egosentik), meskipun anak itu sedang berada dalam kelompok. Anak tipe ini lebih banyak berbicara bagi kesenangan dan yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Ia cenderung mendominasi pembicaraan dan kurang berminat dan sulit mendengarkan dan menerima pendapat orang lain. Kedua, kegiatan berbicara yang berpusat pada orang lain (sosialisasi). Anaktipe ini cenderung menyesuaikan isi dan cara berbicaranya dengan orang yang sedang berinteraksi dengannya. Anak mampu berkomunikasi dan melibatkan diri dengan kegiatan sosial sehingga menjadi anak yang disenangi.

Owen (Semiawan, 1998) menjelaskan perkembangan bahasa (pragmatik dan semantik) anak pada usia sekolah dasar. Menurutnya, anak usia 5 tahun sangat sering menggunakan bahasa untuk mengajukan permintaan, mengulang untuk perbaikan, mulai membicarakan topik-topik gender. Anak usia 6 tahun mengulang dengan cara elaborasi untuk perbaikan, dan menggunakan kata-kata keterangan. Anak usia 7 tahun mengguna-kan dan memahami sebagian istilah dan membuat plot naratif yang mempunyai pengantar dan akhir dari topik yang mau diungkapkan. Anak usia 8 tahun menggunakan topik-topik yang konkret, mengenal makna nonliteral dalam bentuk permintaan langsung, dan mulai mempertimbangkan maskud lainnya. Pada usia 9 tahun, anak memelihara topik melalui beberapa perubahan.

Perkembangan bahasa menjadi berkurang (sedikit berbicara) pada anak yang mendekati masa puber dan dewasa. Pada masa puber terjadi perubahan fisik yang sangat cepat dan dihadapkan pada masalah yang dipikirkan orang dewasa

Faktor dan Kendala dalam Mempelajari Keterampilan Berbahasa

Walaupun pola perkembangan keterampilan berbahasa anak pada umumnya sama, tetapi tetap ada perbedaan individual, terutama dalam laju perkembangan dan frekuensi atau banyaknya bicara, serta isi atau topik pembicaraan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor berikut.

1. Kesehatan: Anak yang sehat lebih cepat belajar berbicara dibandingkan dengan anak yang kurang sehat atau sering sakit. Hal ini dikarenakan perkembangan aspek motorik dan aspek mental berbicaranya lebih baik sehingga lebih siap untuk belajar berbicara. Motivasi berbahasa didorong oleh keinginan untuk menjadi anggota kelompok sosial dan berkomunikasi dengan anggota kelompok tersebut.

2. Kecerdasan: Anak yang memiliki kecerdasan tinggi, akan belajar berbicara lebih cepat dan memiliki penguasaan bahasa yang lebih baik daripada anak yang tingkat kecerdasannya rendah. Belajar bahasa erat kaitannya dengan kemampuan berpikir. Bahasa mengungkapkan apa yang dipikirkan anak.

3. Jenis kelamin: Anak perempuan lebih baik dalam belajar bahasa daripada anak laki-laki, baik dalam pengucapan, kosa kata, dan tingkat keseringan berbahasa, daripada anak laki-laki.

4. Keluarga (jumlah anggota keluarga, urutan kelahiran, dan metode latihan berbicara). Semakin banyak jumlah anggota keluarga, akan semakin sering anak mendengar dan berbicara. Demikian juga, anak pertama lebih baik perkembangan berbicaranya karena orang tua lebih banyak mempunyai waktu untuk mengajak dan melatih mereka berbicara.

5. Keinginan dan dorongan untuk berkomunikasi serta hubungan dengan teman sebaya. Semakin kuat keinginan dan dorongan berkomunikasi dengan orang lain, terutama bermain dengan teman sebaya, akan semakin kuat pula usaha anak untuk berbicara atau berbahasa.

6. Kepribadian: Anak yang dapat menyesuaikan diri dengan baik cenderung memiliki kemampuan berbicara atau berbahasa lebih baik daripada anak yang mengalami masalah atau kendala dalam penyesuaian diri dan sosial. Kemampuan berbahasa anak yang memiliki kepribadian dan penyesuaian diri yang baik juga akan lebih baik secara kuantitas (jumlah kata dan keseringan bicara) maupun secara kualitas (ketepatan pengucapan dan isi/topik pembicaraan).

Hambatan atau kesulitan perkembangan bahasa terjadi apabila anak tidak meninggalkan kebiasaan berbicara pada masa anak awal. Akibatnya, anak mengalami keterlambatan berbicara. Pada gilirannya, anak menjadi kurang percaya diri dan merasa tidak mampu, sehingga mempengaruhi penyesuaian diri dan sosialnya. Demikian juga, tipe anak yang berbicara secara egosentrik dapat mengakibatkan anak menjadi semakin tertutup dan sulit melakukan penyesuaian sosial. Masalah lain berupa ketunawicaraan atau cacat bicara yang terjadi pada anak. Ia tidak dapat atau sulit berbicara, mengucapkan kata dengan benar dan jelas. Ada juga anak yang mengalami kerancuan berbicara seperti penggantian bunyi huruf; bicara tidak jelas karena tidak berfungsinya bibir, lidah dan rahang dengan baik; serta gagap atau berbicara terlalu cepat dan membingungkan, karena otot bicara dengan otak kurang koordinasi mengenai apa yang ingin dibicarakan. Selain hambatan tersebut, akhir-akhir ini juga muncul masalah sehubungan kedwibahasaan yang dapat membuat anak menjadi bingung, sehingga mengalami kesulitan dalam penyesuaian sosial dan pembelajaran di sekolah.

Berkenaan dengan perkembangan bahasa anak, orang tua di rumah maupun guru di sekolah perlu memahami pola perkembangan bahasa anak, serta peka terhadap masalah yang mengganggu perkembangan bahasa anak. Dengan cara ini, anak akan sedini mungkin diberikan bantuan dan bimbingan yang tepat. Potensi anak untuk berbahasa memerlukan waktu, kesabaran, dan dukungan dalam proses pembelajaran dan pelatihan berbahasa. Biasakan anak menggunakan bahasa yang baik dan benar. Berikan mereka dorongan agar berani berbicara dan memiliki kebiasaan membaca serta menulis yang baik dan benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: