Kisah Sepasang Kekasih dan Sebungkus Nasi

30 Jun

Saat itu Anisa, seorang perempuan berumur sekitar 20 tahun pulang dari kampus. Sesampainya di rumah diambillah sebuah air putih dan diminumnya teguk demi teguk lalu dengan segera memanaskan air hangat untuk membuat secangkir teh. Ya, ternyata Anisa adalah seorang mahasiswi yang sudah mempunyai seorang suami, Andika namanya. Mereka hidup amat sangat sederhana. Mereka memutuskan menikah karena mereka jauh lebih takut berbuat maksiat dan berdosa. Mereka punya keyakinan, Allah akan membantu setiap umatnya yang memiliki niat yang benar saat menikah.

Mungkin Allah sedang menguji kesetiaan pasangan itu, minggu demi minggu Andika pun tidak bisa mendapat penghasilan, dan persediaan semakin menipis. Sampai pada suatu ketika uang mereka tinggal 7.000 rupiah. Anisa memberikan uang itu kepada Andika, “mas…ini uangnya mas belikan nasi ya, kan mas belum makan…” dengan tersenyum dan tidak lupa mengecup kening sang istri Andika pun berangkat membeli nasi. Beberapa menit pun berlalu dan Andika sudah tiba kembali ke rumah yang dikontrak dan masih terbayar tidak lebih 10 % itu. “sayang ini nasinya” kata Andika, “makasih ya mas…sekarang mas istirahat saja kan capek habis keliling cari kerja mas…yah..meskipun tidak dapat yang penting sudah berusaha…”. Kemudian Andika langsung saja pergi ke kamar dan tidur.

Malam pun berlalu, tepat jam 3 pagi Anisa sudah bangun setelah sholat malam dia menyiapkan segala keperluan suaminya. “mas…ini sarapannya mas makan dulu ini tadi aku dikasih mbok yem tetangga kita yang lagi syukuran…lumayan mas…” wah terimakasih Istriku, kamu memang istri yang paling baik” sekali lagi Andika mengecup dengan mesra kening istri tercintanya. Tetapi andika tidak segera memakannya, “sayang…mas tak mandi dulu ya, biar nanti saja aku sarapan setelah mandi kan tidak baik setelah makan mandi…kalau kamu takut terlambat kuliah kamu berangkat dulu saja gak papa….”. Anisa pun bergegas berangkat ke kampusnya.

Sore pun tiba Anisa sudah menunggu kedatangan suaminya dengan berharap suaminya mendapat rezeki, memang Andika harus pulang menjelang magrib, setelah kuliah dia harus segera mencari pekerjaan.” Assalamualaikum…” Andika memberi salam kepada istrinya tidak lupa selalu mengecup kening istri tercintanya…”hari ini mas dapat rezeki istriku, nich mas bawa makanan tadi mas sudah makan di sana dan mas bungkuskan buat dindaku tercinta”. “Terimakasih mas….”

Seperti biasa mereka tidur dan Anisa selalu bangun lebih awal dari Andika, Anisa lalu memanaskan air untuk suaminya, tapi tiba-tiba terdengar suara gelas yang pecah terjatuh, lalu andika pun langsung bangun dari tidurnya segera berlari dan dengan kagetnya menemukan istrinya tergeletak lemas dan pucat sekali, “Anisa….kamu kenapa?kamu tidak apa-apa kan sayang…” dengan cekatan Andika menggendong Anisa dan memberinya minum air hangat. Tidak apa mas Nisa sedikit ngantuk saja, tapi tiba-tiba andika terbelalak melihat apa yang ternyata disiapkan istrinya. Ditengah mereka sedang duduk di kasur tempat tidur tercium bau gosong, dan andika segera melihatnya.

“Anis…apa yang kamu lakukan?ini nasi dari mana?” tanya andika, akhirnya dengan pertanyaan yang terus menerus diajukan Andika Anis pun mengaku, ini adalah nasi yang mas berikan tadi malam, “aku tidak tega untuk memakannya mas, mas kan harus mencari kerja, sedangkan aku hanya duduk di bangku kuliah”. Andika dengan seketika langsung memeluk erat istrinya…sambil menangis dia mengatakan, “anisa istriku, aku sayang sekali sama kamu, aku juga tidak tega kamu tidak makan, aku tahu kamu tidak punya uang, aku sengaja tidak memakan sarapanku untuk kamu, biar kamu tidak seperti ini”. Kemudian Anisa berkata “apa mas tidak sarapan?? Setiap hari mas membungkus kembali nasi ini?” Anisa pun menangis menggebu-gebu aku sayang kamu mas Andika….aku tidak pernah diberi nasi tetangga, aku hanya membungkus kembali nasi pemberian mas dan aku hangatkan dikala malam hari mas sedang tidur, aku tidak ingin mas kenapa-napa aku sayang kamu mas…”. “Allahuakbar anisa…jadi 3 hari ini, kita tidak pernah makan? Aku hanya pura-pura terlambat menunggu kamu berangkat padahal aku berusaha menyembunyikan nasi itu, kamu pun demikian, kamu tidur larut malam, dan bangun pagi sekali untuk menghangatkan nasi, sekarang nasi ini sudah tidak bisa dimakan Anisa istriku. Tapi hari ini aku tahu aku sedang bersama dengan orang yang dengan ikhlas menerimaku apa adanya, menjadi separuh hidupku di saat aku perlu, ini sudah lebih dari sekedar sarapan pagi. Sekarang tidak ada nasi, ayo kita ambil wudhu dan sholat, memohon kepada Allah rezeki untuk kita hari ini…” dengan kecupan khas Andika dikening istrinya mereka bangkit dari duduk dan menuju kamar mandi untuk berwudhu…

4 Tanggapan to “Kisah Sepasang Kekasih dan Sebungkus Nasi”

  1. tojek 1 Juli 2010 pada 1:47 PM #

    hohoho,,,,,apik apik apik,,,
    keep going nggit,,,

    numpang iklan :
    klik copypastecopypaste.wordpress.com
    blog all about computer🙂

  2. qurrotu 6 Juli 2010 pada 10:04 AM #

    mengharukan… hikz hikz hikz
    karena keputusan adalah tindakan dan tindakan punya konsekuensinya masing-masing

  3. Anonim 25 Oktober 2011 pada 3:15 PM #

    kita hendakx menyayangi istri krna i2 merupak4n amln ¥9 shol!h4…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: