Pola Pikir Aktivis Membawa Kesuksesan

3 Jul

Entah benar atau salah orang sukses paling sering diidentikkan dengan yang namanya otak kanan manusia. Otak yang khusus menangani kecerdasan emosional. Perkembangan otak ini sangat mempengaruhi sukses tidaknya seseorang, tidak hanya dalam bekerja tapi juga dalam membina hubungan dengan keluarga, rekan bisnis atau rekan kerja. Pertanyaanya adalah kalau otak ini sangat penting dan menjadi penentu kesuksesan maka bagaimanakah kita mengidentifikasi kapasitas otak kanan kita? Dan bagaimana mengupgradenya?

Sebagai seorang mahasiswa yang kehidupannya dipenuhi kegiatan belajar dan organisasi, maka ijinkanlah penulis memberikan opini terkait hal ini dan mudah-mudahan bisa menjadi renungan maupun pertimbangan dan sekaligus koreksi akan diri kita semua selama ini, sudahkah apa yang kita lakukan, rasakan dan bicarakan selama ini sudah sesuai dengan kaidah kecerdasan dan kesuksesan?

Dalam dunia kampus/mahasiswa terbagi dalam 3 kelompok, yaitu aktivis, akademis, dan romantic dan tidak perlu penulis jelaskan apa perbedaan ketiganya penulis hanya akan menyoroti salah satu yang dianggap substansial. Ialah mahasiswa aktivis, kalau kita bicara image memang tidak bisa dipungkiri aktivis adalah mahasiswa yang terlalu banyak waktu tersita untuk organisasi, kadang lulus telat, banyak juga yang DO. Namun, itu adalah pendapat dari mereka yang bukan aktivis, disini mudah-mudahan penulis dapat bersikap netral, karena penulis juga aktivis, maka dari itu sangat membutuhkan penilaian pembaca apakah penulis sudah obyektif.

Ya, aktivis dalam pandangan saya adalah mahasiswa yang menghabiskan waktunya dalam 3 hal yaitu, sebagai pembelajar, pelaksana dan pengajar.

  1. Sebagai pembelajar, seorang aktivis berarti menggunakan waktunya untuk belajar entah itu di bangku kuliah atau jika diorganisasi dengan mengamati, membaca dan diskusi dengan orang yang lebih capabel. Bisa juga saat ia mempelajari sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya misalnya membuat booklet, spanduk, poster dan masih banyak lagi. Akan sangat wajar dan sah bila dikatakan waktu “belajar” (materi kuliah) para aktivis lebih sedikit dari pada mahasiswa biasa. Tapi sebtulnya supply ilmu yang mereka dapat adalah sama hanya saja jenis ilmunyalah yang berbeda. Dan sebagai seorang aktivis justru akan lebih jelas alokasi waktunya, yaitu untuk belajar dalam organisasi. Sedangkan mahasiswa biasa memang bisa dijamin untuk mahasiswa yang memang pada dasarnya dia punya kebiasaan rajin, tapi untuk mahasiswa yang sedikit pemalas mungkin justru menghabiskan jatah waktu yang sama itu untuk tidur, atau main. Bahkan untuk mahasiswa romantis menghabiskan waktu dengan pasangannya di cafe, jalan-jalan, dan hal lain yang kurang produktif.
  2. Sebagai pelaksana, aktivis dituntut langsung tanpa kompensasi sedikitpun untuk mempraktekkan ilmunya di lapangan. Bahkan mereka akan mendapatkan konsekuensi secara konkrit dan langsung apabila melakukan kesalahan. Yaitu mempraktekkan ilmu dalam berhubungan sesama manusia, kejujuran, kerja keras pantang menyerah, mawas diri dan rendah hati. Karena semua itu mutlak dibutuhkan dalam dunia aktivis. Dan masih banyak lagi yang harus dipraktekkan dengan benar dan tanpa cacat. Lalu jika seperti itu tentunya kita dapat mengukur bagaimana kecakapan seorang aktivis dibandingkan mahasiswa biasa sedangkan waktu yang mereka gunakan adalah sama.
  3. Sebagai pengajar, bagi seorang aktivis yang sudah memiliki jabatan tinggi, dia punya kewajiban mengarahkan junior-juniornya, dituntut mampu memberikan motivasi,dan mengajarkan semua ilmu yang pernah ia miliki. Lain dari pada itu suatu hal yang amat tidak kalah pentingnya adalah ia berkembang menjadi seorang konseptor yang visioner dan sarat pengalaman. Bagaimana mengonsep suatu acara, membuat konspirasi bahkan sampai bagaimana merekayasa sosial masyarakat (kampus).

Itu semua adalah pekerjaan seorang aktivis, yang selama ini imagenya tidak terlalu bagus dimata setiap orang tua. Mungkin waktu yang mereka tempuh adalah sama, tapi apa yang mereka pelajari amatlah berbeda. Maka tidak heran jika mereka memiliki perbedaan capabilitas.

Jika kita kembalikan ke masalah orang sukses, maka orang sukses adalah orang yang pola pikir dan wawasannya selalu berkembang, ia terbiasa untuk berfikir aktif, kreatif, menciptakan hal-hal yang baru. Maka semua itu tentu didapat dari sebuah sarana yang memadai, yaitu aktivis. Masihkah ada image buruk itu dikalangan aktivis?

Satu Tanggapan to “Pola Pikir Aktivis Membawa Kesuksesan”

  1. an451412006 10 November 2016 pada 6:22 PM #

    masih sebatas suhu teoritis.. semoga aktivis kian berbenah bukan hanya tataran fikiran namun selaras tindakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: