Pemimpin (1)

12 Agu

Salam kepemimpinan,

Pemimpin adalah sebuah kata sederhana, pendek dan maknanya pun tidak telalu berat. Betapa tidak, kita hanya mudah mengucapkannya, tapi pernahkah kita merasakan yang namanya pemimpin? Mungkin kita akan merasakan pahit getir dan suka duka jikalau kita pernah menjadi pemimpin.

Memang ada banyak tipikal pemimpin, namun yang paling fundamental seorang pemimpin sebetulnya adalah pelayan, pelayan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Sering kita dengar ucapan pemimpin itu yang pertama merasakan susah, tapi yang terakhir merasakan kesenangan.

Pada artikel kali ini kita akan membahas dan mempelajari karakteristik pemimpin dalam makna “pelayan” bagi orang yang dipimpin atau bahasa lainnya servant leader. Sebelas karakter ini termaktub dalam sebuah buku yang berjudul Psikologi Kepemimpinan yang ditulis Fuad Nashori.

  1. Panggilan hati. Panggilan hati disini bukan berarti ambisi, ingin menjadi seorang pemimpin dengan menghalalkan segala cara. Panggilan hati disini berarti adalah sebuah panggilan atau keinginan natural dari seorang untuk mau dengan ikhlas melayani orang-orang disekitarnya. Panggilan alami ini sangat diperlukan sebagai seorang pemimpin karena jikalau seorang pemimpin muncul tidak karena panggilan hati, maka bencanalah yang akan muncul. Dalam sebuah hadits ruwayat Turmudhi, nabi Muhammad SAW mengatakan “Dua serigala lapar yang dilepaskan di antara domba-domba tidak lebih membahayakan dibandingkan seorang laki-laki yang tamak akan harta dan sombong terhadap imannya”.
  2. Mendengarkan. Seorang pemimpin harus memiliki keterampilan mendengarkan suara rakyatnya. Secara instingtif masyarakat sebenarnya mempunyai ide-ide yang menginginkan untuk didengar dan dijadikan bahan pertimbangan oleh pemimpin mereka dalam mengambil kebijakan. Maka seorang servant leader dapat dipastikan mampu menerima pendapat masyarakatnya.
  3. Empati. Servant leader yang paling sukses adalah mereka yang telah memiliki keterampilan menjadi pendengar yang empatik. Pendengar yang empatik akan bekerja keras untuk memahami dan berempati kepada orang lain dan berusaha untuk memahami persepsi dan pengalaman orang lain. Dengan selalu berempati seorang pemimpin akan selalu berusaha melihat niat baik orang lain dan tidak menolaknya sebagai manusia, bahkan jika orang tersebut memang pantas untuk ditolak karena perilaku ataupun performanya. Bahkan Turmudhi meriwayatkan dari Aisyah r.a, Nabi Muhammad SAW bersabda : “Cegahlah penderitaan dalam pemberian hukuman terhadap muslim sebisa mungkin, dan jika ada jalan lepaskan dia, adalah lebih baik bagi seorang muslim untuk melakukan kesalahan karena memaafkan disbanding jika dia melakukan kesalahan dalam menghukum”.
  4. Healing (penyembuhan). Seorang pemimpin akan memiliki kekuatan yang sangat ampuh jika dia memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri dan orang lain. Setiap orang tentunya pernah dan pasti memiliki masalah tersendiri dan masalah itu mempunyai cara tersendiri untuk menyelesaikannya. Ada 3 hal yang harus dicapai seorang pemimpin dalam menyelesaikan masalahnya yaitu dia harus punya kapabilitas untuk mengetahui secara detail duduk perkara/masalah, mampu memberikan solusi terbaik yang tidak memihak dan tidak merugikan siapapun, dan yang terakhir adalah mampu menyikapi dengan baik masalah yang ada sebagai kapasitas dia sebagai seorang pemimpin. Pemimpin semacam ini mampu mengembangkan tingkat apresiasi memadai bagi kesehatan dan kestabilan emosi dan semangat anggotanya.
  5. Kesadaran Diri (awareness). Ada 2 macam kesadaran yang menjadi kriteria seorang servant leader. Yang pertama adalah kesadaran terhadap diri sendiri. Kesadaran ini bertumpu pada bagaimana seorang menyadari dirinya sebagai pemegang tanggung jawab penuh dari amanah yang diberikan dan juga mampu menyadari dirinya sebagai seorang manusia yang memimpin manusia sehingga orang yang dipimpin tidak berjalan atau bergerak selayaknya mesin yang dikendalikan secara paksa dan tanpa kompromi sedikitpun.

3 Tanggapan to “Pemimpin (1)”

  1. Kelabang's Blog 16 Agustus 2010 pada 10:13 PM #

    Artikel yang bagus. Tapi bagaimana dengan orang yang merasa tak bisa jadi pemimpin tapi terpaksa jadi pemimpin, seperti aku..

    • akhanggit 15 September 2010 pada 7:09 AM #

      selamat! artinya anda sudah bisa menjadi pemimpin. Tampu kepemimpinan itu pada hakikatnya adalah sebuah amanah yang tidak bisa diminta, dipaksa namun diberikan kepada yang layak menjadi pemimpin. Ada suatu “katub” pada diri anda yang berada di atas orang lain.

      Buat mas, saran saya cukup satu. Anda tidak bisa mengejar kesempurnaan, tapi anda bisa memberikan yang terbaik. Selamat berjuang saudaraku… dan salam kenal.

  2. moslemalfaruq 22 Oktober 2010 pada 9:59 AM #

    artikel yang bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: