Situasi Semakin Runyam Karena Warisan

15 Okt


Berbicara mengenai dakwah kampus secara ideal tentu kita tidak terlepas dengan namanya budaya. Budaya secara kontinu turun temurun dari kader ke kader.

Budaya ukhuwah, kebersamaan dan saling memiliki dan melindungi adalah suatu kondisi yang amat menyenangkan, serta menjadi nutrisi utama para kader dakwah dalam mengembangkan dan menjaga konsistensi dakwahnya. Memang banyak manfaat yang bisa dipetik apabila terjadi kebersamaan.

Sayangnya, kebersamaan ternyata hanya bisa diwariskan dengan kebersamaan pula. Orang atau tokok pemeran kebersamaan harus senantiasa mewariskan kebersamaan itu secara estafet tanpa terputus di tengah jalan. Karena kebersamaan adalah warisan visual sifatnya insidental bahkan tiap menit dan detiknya.

Ketika sang “pewaris” ini gugur ditengah-tengah perjuangan dakwah sebelum sempat mewariskan suatu kebersamaan maka dapat ditebak dengan sangat mudah bagaimana sekelompok kader dakwah yang mengalami kekurangan nutrisi kebersamaan. Situasi ini diperparah dengan berubahnya secara cepat kondisi medan dakwah. Maka satu kata “runyam” adalah sangat pas untuk menggambarkan kondisi dakwah yang kurang nutrisi ini.

Sungguh memang sangat disayangkan ketika suatu budaya sudah terbentuk secara rapi dan indah tiba-tiba putus ditengah jalan bagaikan ditelan bumi begitu saja. Yang lebih parah adalah apabila ada budaya baru yang membudaya, yaitu bukan kebersamaan, tapi kecurigaan, saling berjauhan, ketidakpercayaan dan saling tuduh menuduh. Ini semua tidak bisa pula kita salahkan begitu saja, karena budaya baru yang muncul ini merupakan dampak laten dari hilangnya salah satu nutrisi penting tadi.

Analogi dengan runtuhnya khilafah, mungkin ada baiknya kita mempelajari suatu buku-namun jika ada- yang berjudul “Runtuhnya kejayaan dakwah dan upaya menegakkannya”. Ini berarti setiap kader dakwah patut untuk mengetahui dan mempelajari bagaimana sejarah jaya dan runtuhnya dakwah, sekaligus menyiapkan analisa, menciptakan suatu sintesa yang mampu menjadi solusi akan keruntuhan ini. Dan itu semua hanya akan menjadi realita ketika tiap tahap analisa dan sintesa dari kader dakwah ini dilakukan secara independent tanpa ada intervensi baik dari pihak pelaku dakwah pra dan pasca keruntuhan. Atau minimal dengan informasi yang seimbang sehingga tidak terjadi kecondongan dan terjadi pewarisan secara tidak sadar, yang akan membuat kader itu menjelma menjadi manusia yang paling mengintervensinya.

Atau kalau memang intervensi ini tidak bisa dihilangkan atau minimal direduksi, mungkin solusi yang paling realistis adalah dengan “memangkas”. Bagaikan dahan yang sudah terinfeksi, maka agar infeksi ini tidak menjalar mungkin perlu ada pemangkasan. Wallahualam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: