Ketika aktivis dibenturkan dengan konsistensi

20 Nov

“Segalanya memang diawali dari sebuah wacana, yang berlanjut kepada cita-cita yang tertuang dalam sebuah visi dengan di bingkai misi, maka jadilah realita ”.

Itu mungkin menjadi slogan setiap pemandu diskusi atau mungkin juga bisa dikatakan setiap panitia even-even diskusi. Sebuah dilematikan dan ketakutan mendalam bagi setiap orang normal yang bertugas sebagai orang-orang tersebut.

Entah kenapa ide menulis ini muncul, ketika teringat memandu diskusi pada sebuah acara outbond. Outbond yang diawali dengan studi kasus di sebuah desa di kota Batu. Diskusi memang sangat sengit antara dua kelompok “belum” dan “van tit…”. Diskusi yang mencoba memberikan sebuah solusi bagi permasalahan masyarakat di desa terkait.
Bagi seorang mahasiswa diskusi seperti itu tergolong diskusi yang lumayan berat, karena tidak semuat mahasiswa bahkan mahasiswa baru (MABA) dapat menangkap apa yang dibicarakan. Diawali dengan pemaparan kasus dari masing-masing kelompok, dilanjutkan dengan pengerucutan masalah dan pencetusan sebuah konsep solusi yang tidak hanya dituntut integral dan komprehensif tapi juga dapat terealisasi dengan jelas.
Mereka dituntut ilmiah baik dari segi operasional maupun konseptual. Dan sungguh luar biasa itulah mahasiswa dengan idealismenya, idenya, dan pemikirannya yang masih segar dan penuh semangat.
Dari situlah justru tulisan ini muncul. Terkait, apa benar cara seperti ini efektif dalam menyelesaikan permasalahan? Pernah berdiskusi dengan seseorang yang mengatakan manusia itu jangan hanya banyak bicara, terlalu banyak konsep tapi tidak ada action yang jelas.
Jika dicoba berargumen dengan fakta, maka justru faktalah yang ternyata membuktikan betapa banyaknya para aktivis yang ketika menjadi mahasiswa begitu tingginya sikap idealis tapi ternyata setelah para aktivis itu berada dalam atau masuk dalam sistem justru mereka yang sekarang menjadi bulan-bulanan aktivis sekarang. Hal ini seakan menjadi sebuah “rutinitas” dalam pergolakan para orang-orang idealis.
Entah itu idealis dalam kungkungan konservatif atau idelis dinamis semua membuktikan bahwa sedikit sekali konsistensi di dalamnya.
Wallahua’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: