Lemah, karena Romantisme di masa lalu

18 Mar

Manusia pada hakikatnya makhluk yang dinamis, penuh dengan ide-ide baru, keberanian dan pantang untuk tidak mencoba apa yang baru saja diketahui. Perhatikan saja ketika seorang anak belajar menaiki sepeda. Saya rasa tidak perlu saya jelaskan panjang lebar mengenai hal itu.

Ibarat botol yang masih kosong dan dituangi cairan, maka kualitas cairan itulah yang menentukan kualitas botol itu, pikiran kita pun demikian, apa yang masuk dan terpatri menjadi sebuah konsep kerangka bagaimana kita memandang sesuatu. Maka setelah itu, kita akan menggunakan segala macam isi dalam botol pikiran kita dalam memandang sesuatu. mungkin jika botol itu diisi dengan air bersih, segala apa yang kita pandang di balik botol itu masih terlihat jelas. Lalu, bagaimana ketika isi botol itu keruh?.

Romantisme masa lalu membuat nyaman di zona tertentu. Kadangkala muncul dipikiran seseorang untuk mengulang keberhasilan di masa lalu sekalipun mungkin keberhasilan itu saat ini sudah tidak relevan. Minimal peluang kegagalan tidak sebesar itu. Manusia lebih nyaman tidak gagal, daripada meraih keberhasilan lebih besar.

Dakwah dengan segala bentuk definisinya maka dapat disimpulkan ada beberapa yang pakem dan ada beberapa yang memang memberikan ruang untuk dinamisasi. Ketika dibenturkan dengan realita ternyata memang suatu keharusan bahwasanya dakwah butuh sebuah dinamisasi fleksibel untuk menyesuaikan kelenturan-kelenturan jalan dakwah ini.

Definisi kreatif. Amat mudah sebenarnya mengenali lebih dekat dengan makhluk yang bernama kreatif ini. cukup bisa dikenal dengan bagaimana produk pikiran itu dihasilkan. Kembali lagi, apakah romantisme masa lalu itu masih berpengaruh terhadap produk pikiran itu?

Berfikir keluar dari sebuah kotak. Kotak-kotak informasi yang berada dalam pikiran kita sesungguhnya sudah terprogram secara rinci yang mungkin sampai saat ini belum ada yang sanggup mengungkap keterperincian itu. Dominasi kotak-kotak sebagai eksekutif pikiran inilah yang sebenarnya menghambat ide, gagasan baru bermunculan.

sebagaimana hukum alam dalam kenyamanan memang tidak memiliki terlalu banyak resiko. Namun, gradien garis yang menunjukkan hasil produk itu dapat dijamin sangat kecil dan mungkin jalan di tempat. Karena itu semua bisa menjadi sebuah perangkap siklus yang dampak berkelanjutan

menerima gagasan baru dan tanggalkan keegoisannmu. Di sini sudah jelas, tidak cukup hanya menjadi pengusul gagasan yang jitu, akan tetapi juga seorang pendengar yang bijak. Kolaboratif, bukan kompetitif.

menuju puncak. Puncak adalah permasalahan kecil ketika eksekusi dilapangan, dan menjadi permasalahan besar ketika dalam tahap persiapan. Ide dan gagasan itu haruslah menjadi sebuah pikiran yang workable, dengan tahapan-tahapan jelas, dan bisa dibuat. Intinya bagaimana memvisualisasikan Mind Project kedalam pikiran, tidakan dan tingkah laku.

Puncak bukanlah sebuah romantisme yang membuat segalanya berhenti begitu saja

Satu Tanggapan to “Lemah, karena Romantisme di masa lalu”

  1. Taufiq_Qipot 23 Mei 2011 pada 12:09 PM #

    Lanjut.. ayo nulis..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: