Memaknai Kembali Arti Re-generasi

18 Okt

Picture4Entah apa yang saya rasakan namanya, amat sangat sulit dinamai, ketika melihat posting di group whatsapp “ikhwah UM” bahwa besok akan ada MUSKOM KAMMI Komisariat Universitas Negeri Malang. Segera terputar bak sebuah kaset DVD sebuah film perjalanan selama di KAMMI terputar kembali. Wajah-wajah yang dulu bersama, wajah-wajah yang dahulu berbeda pendapat, wajah-wajah malam diwarung kopi, wajah-wajah duka, tawa, canda, semua seakan terputar dengan begitu cepat, bercampur pula rasa ingin kembali merasakan masa itu. Apapun namanya, mungkin jika ingin di singkat namanya hanyalah satu kata, “cinta”. Tak ada apapun di dunia ini yang paling banyak menghabiskan kosa kata, paling banyak menghabiskan perasaan dan ungkapan kecuali cinta. Ya, mungkin saya memang orang yang jatuh cinta dengan KAMMI sejak pertama bertemu, hingga sekarang.

KAMMI adalah suatu organisasi mahasiswa yang membawa ideologi Islam dengan sangat khas dan kuat. Sekalipun memiliki rujukan yang hampir sama, atau bahkan sama dengan organisasi-organisasi lain, tetap saja, KAMMI adalah organisasi yang memiliki cita rasa paling sedap, berbeda lain daripada yang lain. Memiliki keseimbangan antara nalar pikir dan nalar wahyu, memiliki keseimbangan antara idealita dan realita, serta memiliki keseimbangan antara ketaatan dan perlawanan.

Islam yang menjadi ideologi KAMMI merupakan agama yang memiliki situs relatif paling sedikit dibandingkan dengan agama maupun kepercayaan lain. Jika memang demikian lalu apa hal yang menjadi sangat berharga untuk umat Islam? Lalu apa warisan agung yang diberikan kepada umat Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa shohbihi wasallama ini? Jawabannya adalah sejarah. Islam adalah agama yang memiliki sejarah paling detail, paling jelas, dan paling lengkap baik lengkap secara fitrah maupun lengkap secara nalar. Lengkap, karena sejarah manusia paling hebat di muka bumi ini untuk selamanya adalah miliki umat Islam. Sejarah panglima perang tak terkalahkan adalah miliki umat Islam. Sejarah pengusaha kaya, rendah hati, serta zuhud meninggalkan hartanya adalah miliki umat Islam. Sejarah tokoh yang dari jaman sahabat hingga sekarang bahkan masih memiliki harta kekayaan yang masih berputar adalah miliki umat Islam.

Selain menarik sejatinya dengan mengambil sirah sebagai pelajaran merupakan jalan paling sempurna dalam mengambil sesuatu sebagai referensi tindakan masa depan. Berdasarkan pernyataan tersebut kita akan mencoba menelaah lebih dalam, apa makna regenerasi kepemimpinan hebat dalam Islam, yang hingga kini belum terulang kembali. Tengoklah kisah Amirul Mukminin Umar Ibn Khattab, yang pada suatu malam, seorang pemimpin besar nan agung memiliki kebiasaan melakukan ronda malam. Hanya untuk memastikan dirinya tidak lalai untuk menjaga umat yang ia pimpin. Malam itu langkah Amirul Mukminin terhenti lantaran mendengar percakapan seorang ibu penjual susu dengan putrinya. Kisah ini merupakan kisah yang amat biasa kita dengar selaku kader KAMMI. Ya, seorang putra Amirul mukminin bernama ‘Asim kemudian menikah dengan putri penjual susu yang miskin tersebut. Tahukah antum apa yang dikatakan Amirul Mukminin? InsyaAllah redaksinya kurang lebih demikian “Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat kelak yang akan memimpin orang-orang Arab dan Ajam”. Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang putri bernama Laila yang ketika dewasa menikah dengan keturunan Bani Umayyah bernama Abdul Aziz bin Marwan. Dari rahim Laila terlahirlah seseorang yang sangat luar biasa menjadi pemimpin Umat Islam bernama Umar bin Abdul Aziz. Kedudukan Umar bin Abdul Aziz bahkan disejajarkan dengan khulafaur Rasydin. Abu Nu’aim al-Ashfahani meriwayatkan bahwa Ahmad bin Ibrahim, seorang sufi, pada sore hari meninggalnya Ahmad bin Hanbal mengatakan, “seseorang dari kalangan ulama terkemuka dan terhormat bergelar Abu Ja’far pada sore sesaat setelah kami memakamkan Ahmad bin Hanbal berkata kepada saya, “tahukah kamu, siapakah yang telah kami makamkan pada hari ini?” Saya katakan, “siapa?” dia berkata, “orang keenam setelah lima orang.” Saya tanyakan, “siapa keenam orang itu?” dia menjawab, “Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Abdul Aziz, dan Ahmad bin Hanbal.” Umar bin Abdul Aziz siapa yang tidak mengenal pemimpin tersohor ini, pemimpin yang bahkan disejajarkan dengan Imam besar seperti Imam Ahmad.

Umar bin Abdul Aziz adalah salah satu contoh proses regenerasi pemimpin terbaik yang pernah ada. Pemimpin yang mengetahui kebijakan yang tepat. Pada saat menjabat sebagai kholifah, banyak sekali pasukan-pasukan Muslim yang sedang melakukan Ekspansi demi memperluas kekuasaannya. Akan tetapi justru kebijakan Umar bin Abdul Aziz berbeda, semua pasukan muslim yang sedang berjihad diminta untuk kembali pulang. Dibukukannya hadist dan disebarkan di setiap pelosok negeri. Mungkin jika boleh memberi nama, kebijakan itu lebih tepat disebut gerakan kembali kepada Al-Quran dan As Sunnah. Pemimpin yang menyadari, kembalinya hati, pikiran dan curah konsentrasi kepada kebutuhan spiritual adalah sungguh kekuatan yang tidak akan mungkin dikalahkan oleh pasukan manapun.

Jika dipelajari dan kita coba mengambil hikmah dari lahirnya salah satu pemimpin terbaik yang pernah ada, mari kita mulai dari kakek buyutnya, Amirul Mukminin Umar ibn Khatab. Pemimpin yang justru menikahkan putranya tidak dengan seorang yang sama-sama terhormat atau se level dengan putra Amirul Mukminin, akan tetapi justru menikahkannya dengan putri penjual susu. Pernikahan berkah, yang tidak memandang status dunia apapun, hanya memandang ketaatan kepada Allah SWT. ‘Asim selaku putra Amirul Mukminin yang tidak perlu mempertanyakan “Kenapa saya putra Amirul Mukminin harus menikah dengan putri penjual susu?” sekali lagi, karena keimanan, karena cinta kepada Allah SWT mengalahkan segalanya. Semoga kita termasuk manusia yang mampu mengalahkan segala hal keduniaan dengan cinta dan keimanan kepada Allah SWT.

Kepemimpinan terbaik bukanlah suatu kepemimpinan yang kita “tunggu”. Meskipun hal itu tidak mustahil terjadi, tetapi sejarah salah satu pemimpin paling hebat lahir dengan proses yang memang diusahakan, tidak lahir dari kepasrahan. Proses melahirkan pemimpin adalah proses yang berkelanjutan dan membutuhkan waktu yang bahkan hingga lintas generasi. Jadi mustahil kiranya mencetak seorang pemimpin hebat dalam hitungan bulan, atau bahkan hari. Kepemimpinan terbaik lahir dari proses ketaatan kepada Allah SWT semata. Kepemimpinan terbaik lahir dari proses yang ikhlas, murni dan tidak terkotori oleh apapun.

Apakah cukup hanya dengan itu untuk melahirkan generasi-generasi terbaik? Tidakkah dibutuhkan ide segar, pemikiran, kreativitas, keberanian. Memang jika diperinci, kebutuhan untuk mencetak generasi terbaik itu tidak ada habisnya. Namun sekali lagi jika kita menengok sejarah, maka seluruh kecerdasan-kecerdasan dalam rangka mewujudkan tatanan generasi terbaik, dan dakwah yang terstruktur, sistematis dan massif hanyalah bermuara pada suatu kalimat “Kecerdasan Spiritual”. Ketika seorang utusan Islam Ribi’ bin Amir datang menemui Raja Persia, ia dipaksa untuk justru menunduk kepada sang raja dengan membuat suatu pintu yang memaksa siapapun yang melewatinya haruslah menunduk seakan menyembah kepada si raja. Namun, seorang yang mungkin di telinga kita tidak akrab Ribi’ bin Amir menunjukkan kecerdasannya dengan melewatkan pantatnya terlebih dahulu kepintu tersebut. Luar biasa, kecerdasan seperti demikian tentu tidak akan lahir kecuali suburnya kecerdasan spiritual yang nantinya membuat mental dan kepercayaan diri kokoh bak tembok besar yang amat sulit di robohkan. Padahal saat itu jika diibaratkan Persia adalah amerika saat ini. Kekuatan yang sangat adikuasa, akan tetapi bahkan seorang Ribi’ bin Amir tidak memiliki kegentaran sedikitpun.

Regenerasi tidak hanya berbicara soal jumlah manusia, juga bukan hanya berbicara mengenai kecemerlangan pemikiran maupun ide saja. Akan tetapi regenerasi adalah lebih kepada penguatan kembali semua ujung dari sebuah jamaah atau organisasi kepada fokus kecerdasan spiritual yang nantinya akan memicu lahirnya kecerdasan-kecerdasan yang lain. Regenerasi adalah lebih kepada penguatan kembali kepada pemahaman-pemahaman dasar mengenai hukum-hukum Allah SWT yang akan menjaga hamba-hambanya dari perbuatan dosa dan maksiat. Regenerasi juga merupakan penajaman kembali ujung dari niat atau tujuan atau orientasi yaitu murni hanya karena Allah SWT, tidak terkotori oleh apapun, seberapapun dan oleh siapapun. Manfaatkan momen regenerasi sebagai momen kembali kepada Allah SWT dengan langkah yang nyata diiringi dengan doa. Bismillahirrohmaanirrohim…

 

 

Menjelang Musyawarah Komisariat KAMMI UM

Bandung, 17 Oktober 2014

 

 

p.m.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: