Arsip | pergerakan RSS feed for this section

Memaknai Kembali Arti Re-generasi

18 Okt

Picture4Entah apa yang saya rasakan namanya, amat sangat sulit dinamai, ketika melihat posting di group whatsapp “ikhwah UM” bahwa besok akan ada MUSKOM KAMMI Komisariat Universitas Negeri Malang. Segera terputar bak sebuah kaset DVD sebuah film perjalanan selama di KAMMI terputar kembali. Wajah-wajah yang dulu bersama, wajah-wajah yang dahulu berbeda pendapat, wajah-wajah malam diwarung kopi, wajah-wajah duka, tawa, canda, semua seakan terputar dengan begitu cepat, bercampur pula rasa ingin kembali merasakan masa itu. Apapun namanya, mungkin jika ingin di singkat namanya hanyalah satu kata, “cinta”. Tak ada apapun di dunia ini yang paling banyak menghabiskan kosa kata, paling banyak menghabiskan perasaan dan ungkapan kecuali cinta. Ya, mungkin saya memang orang yang jatuh cinta dengan KAMMI sejak pertama bertemu, hingga sekarang.

KAMMI adalah suatu organisasi mahasiswa yang membawa ideologi Islam dengan sangat khas dan kuat. Sekalipun memiliki rujukan yang hampir sama, atau bahkan sama dengan organisasi-organisasi lain, tetap saja, KAMMI adalah organisasi yang memiliki cita rasa paling sedap, berbeda lain daripada yang lain. Memiliki keseimbangan antara nalar pikir dan nalar wahyu, memiliki keseimbangan antara idealita dan realita, serta memiliki keseimbangan antara ketaatan dan perlawanan.

Islam yang menjadi ideologi KAMMI merupakan agama yang memiliki situs relatif paling sedikit dibandingkan dengan agama maupun kepercayaan lain. Jika memang demikian lalu apa hal yang menjadi sangat berharga untuk umat Islam? Lalu apa warisan agung yang diberikan kepada umat Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa shohbihi wasallama ini? Jawabannya adalah Baca lebih lanjut

Iklan

Tentang Visi yang akan ku raih (persembahan untuk cinta yang selalu terkenang dan tersayang)

27 Mei

Visi merupkan sebuah keinginan untuk mencapai sesuatu yang benar-benar menggelora. Tidak cukup hanya sebatas angan bahkan membuat raga bergetar mendengarnya terhujam sangat-sangat dalam dalam sanubarinya. Pembuat visi adalah orang yang benar-benar berdiri dan menjulurkan tangannya hingga otot-otot tangannya hampir putus karena tarikan yang begitu kuat untuk meraih visi tersebut. Mereka tidak buta akan apa yang akan dicapainya, mereka mampu menerawang dengan jelas apa yang akan diraih melalui genggaman tangannya. Maka buka mata, sehingga engkau benar-benar melihat dengan jelas apa visi-mu. Dengan sarana mimpi, khayalan, atau imajinasi.
Baca lebih lanjut

Lemah, karena Romantisme di masa lalu

18 Mar

Manusia pada hakikatnya makhluk yang dinamis, penuh dengan ide-ide baru, keberanian dan pantang untuk tidak mencoba apa yang baru saja diketahui. Perhatikan saja ketika seorang anak belajar menaiki sepeda. Saya rasa tidak perlu saya jelaskan panjang lebar mengenai hal itu.

Ibarat botol yang masih kosong dan dituangi cairan, maka kualitas cairan itulah yang menentukan kualitas botol itu, pikiran kita pun demikian, apa yang masuk dan terpatri menjadi sebuah konsep kerangka bagaimana kita memandang sesuatu. Maka setelah itu, kita akan menggunakan segala macam isi dalam botol pikiran kita dalam memandang sesuatu. mungkin jika botol itu diisi dengan air bersih, segala apa yang kita pandang di balik botol itu masih terlihat jelas. Lalu, bagaimana ketika isi botol itu keruh?.

Romantisme masa lalu membuat nyaman di zona tertentu. Kadangkala muncul dipikiran seseorang untuk mengulang keberhasilan di masa lalu sekalipun mungkin keberhasilan itu saat ini sudah tidak relevan. Minimal peluang kegagalan tidak sebesar itu. Manusia lebih nyaman tidak gagal, daripada meraih keberhasilan lebih besar.

Dakwah dengan segala bentuk definisinya maka dapat disimpulkan ada beberapa yang pakem dan ada beberapa yang memang memberikan ruang untuk dinamisasi. Ketika dibenturkan dengan realita ternyata memang suatu keharusan bahwasanya dakwah butuh sebuah dinamisasi fleksibel untuk menyesuaikan kelenturan-kelenturan jalan dakwah ini.

Definisi kreatif. Amat mudah sebenarnya mengenali lebih dekat dengan makhluk yang bernama kreatif ini. cukup bisa dikenal dengan bagaimana produk pikiran itu dihasilkan. Kembali lagi, apakah romantisme masa lalu itu masih berpengaruh terhadap produk pikiran itu?

Berfikir keluar dari sebuah kotak. Kotak-kotak informasi yang berada dalam pikiran kita sesungguhnya sudah terprogram secara rinci yang mungkin sampai saat ini belum ada yang sanggup mengungkap keterperincian itu. Dominasi kotak-kotak sebagai eksekutif pikiran inilah yang sebenarnya menghambat ide, gagasan baru bermunculan.

sebagaimana hukum alam dalam kenyamanan memang tidak memiliki terlalu banyak resiko. Namun, gradien garis yang menunjukkan hasil produk itu dapat dijamin sangat kecil dan mungkin jalan di tempat. Karena itu semua bisa menjadi sebuah perangkap siklus yang dampak berkelanjutan

menerima gagasan baru dan tanggalkan keegoisannmu. Di sini sudah jelas, tidak cukup hanya menjadi pengusul gagasan yang jitu, akan tetapi juga seorang pendengar yang bijak. Kolaboratif, bukan kompetitif.

menuju puncak. Puncak adalah permasalahan kecil ketika eksekusi dilapangan, dan menjadi permasalahan besar ketika dalam tahap persiapan. Ide dan gagasan itu haruslah menjadi sebuah pikiran yang workable, dengan tahapan-tahapan jelas, dan bisa dibuat. Intinya bagaimana memvisualisasikan Mind Project kedalam pikiran, tidakan dan tingkah laku.

Puncak bukanlah sebuah romantisme yang membuat segalanya berhenti begitu saja

Ketika aktivis dibenturkan dengan konsistensi

20 Nov

“Segalanya memang diawali dari sebuah wacana, yang berlanjut kepada cita-cita yang tertuang dalam sebuah visi dengan di bingkai misi, maka jadilah realita ”.

Itu mungkin menjadi slogan setiap pemandu diskusi atau mungkin juga bisa dikatakan setiap panitia even-even diskusi. Sebuah dilematikan dan ketakutan mendalam bagi setiap orang normal yang bertugas sebagai orang-orang tersebut.

Entah kenapa ide menulis ini muncul, ketika teringat memandu diskusi pada sebuah acara outbond. Outbond yang diawali dengan studi kasus di sebuah desa di kota Batu. Diskusi memang sangat sengit antara dua kelompok “belum” dan “van tit…”. Diskusi yang mencoba memberikan sebuah solusi bagi permasalahan masyarakat di desa terkait.
Bagi seorang mahasiswa diskusi seperti itu tergolong diskusi yang lumayan berat, karena tidak semuat mahasiswa bahkan mahasiswa baru (MABA) dapat menangkap apa yang dibicarakan. Diawali dengan pemaparan kasus dari masing-masing kelompok, dilanjutkan dengan pengerucutan masalah dan pencetusan sebuah konsep solusi yang tidak hanya dituntut integral dan komprehensif tapi juga dapat terealisasi dengan jelas.
Mereka dituntut ilmiah baik dari segi operasional maupun konseptual. Dan sungguh luar biasa itulah mahasiswa dengan idealismenya, idenya, dan pemikirannya yang masih segar dan penuh semangat.
Dari situlah justru tulisan ini muncul. Terkait, apa benar cara seperti ini efektif dalam menyelesaikan permasalahan? Pernah berdiskusi dengan seseorang yang mengatakan manusia itu jangan hanya banyak bicara, terlalu banyak konsep tapi tidak ada action yang jelas.
Jika dicoba berargumen dengan fakta, maka justru faktalah yang ternyata membuktikan betapa banyaknya para aktivis yang ketika menjadi mahasiswa begitu tingginya sikap idealis tapi ternyata setelah para aktivis itu berada dalam atau masuk dalam sistem justru mereka yang sekarang menjadi bulan-bulanan aktivis sekarang. Hal ini seakan menjadi sebuah “rutinitas” dalam pergolakan para orang-orang idealis.
Entah itu idealis dalam kungkungan konservatif atau idelis dinamis semua membuktikan bahwa sedikit sekali konsistensi di dalamnya.
Wallahua’lam

Situasi Semakin Runyam Karena Warisan

15 Okt


Berbicara mengenai dakwah kampus secara ideal tentu kita tidak terlepas dengan namanya budaya. Budaya secara kontinu turun temurun dari kader ke kader.

Budaya ukhuwah, kebersamaan dan saling memiliki dan melindungi adalah suatu kondisi yang amat menyenangkan, serta menjadi nutrisi utama para kader dakwah dalam mengembangkan dan menjaga konsistensi dakwahnya. Memang banyak manfaat yang bisa dipetik apabila terjadi kebersamaan.

Sayangnya, kebersamaan ternyata hanya bisa diwariskan dengan kebersamaan pula. Orang atau tokok pemeran kebersamaan harus senantiasa mewariskan kebersamaan itu secara estafet tanpa terputus di tengah jalan. Karena kebersamaan adalah warisan visual sifatnya insidental bahkan tiap menit dan detiknya.

Ketika sang “pewaris” ini gugur ditengah-tengah perjuangan dakwah sebelum sempat mewariskan suatu kebersamaan maka dapat ditebak dengan sangat mudah bagaimana sekelompok kader dakwah yang mengalami kekurangan nutrisi kebersamaan. Situasi ini diperparah dengan berubahnya secara cepat kondisi medan dakwah. Maka satu kata “runyam” adalah sangat pas untuk menggambarkan kondisi dakwah yang kurang nutrisi ini.
Baca lebih lanjut

Pemimpin (1)

12 Agu

Salam kepemimpinan,

Pemimpin adalah sebuah kata sederhana, pendek dan maknanya pun tidak telalu berat. Betapa tidak, kita hanya mudah mengucapkannya, tapi pernahkah kita merasakan yang namanya pemimpin? Mungkin kita akan merasakan pahit getir dan suka duka jikalau kita pernah menjadi pemimpin.

Memang ada banyak tipikal pemimpin, namun yang paling fundamental seorang pemimpin sebetulnya adalah pelayan, pelayan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Sering kita dengar ucapan pemimpin itu yang pertama merasakan susah, tapi yang terakhir merasakan kesenangan.

Pada artikel kali ini kita akan membahas dan mempelajari karakteristik pemimpin dalam makna “pelayan” bagi orang yang dipimpin atau bahasa lainnya servant leader. Sebelas karakter ini termaktub dalam sebuah buku yang berjudul Psikologi Kepemimpinan yang ditulis Fuad Nashori.

  1. Panggilan hati. Panggilan hati disini bukan berarti ambisi, ingin menjadi seorang pemimpin dengan menghalalkan segala cara. Panggilan hati disini berarti adalah sebuah panggilan atau keinginan natural dari seorang untuk mau dengan ikhlas melayani orang-orang disekitarnya. Panggilan alami ini sangat diperlukan sebagai seorang pemimpin karena jikalau seorang pemimpin muncul tidak karena panggilan hati, maka bencanalah yang akan muncul. Dalam sebuah hadits ruwayat Turmudhi, nabi Muhammad SAW mengatakan “Dua serigala lapar yang dilepaskan di antara domba-domba tidak lebih membahayakan dibandingkan seorang laki-laki yang tamak akan harta dan sombong terhadap imannya”.
  2. Mendengarkan. Seorang pemimpin harus memiliki keterampilan mendengarkan suara rakyatnya. Secara instingtif masyarakat sebenarnya mempunyai ide-ide yang menginginkan untuk didengar dan dijadikan bahan pertimbangan oleh pemimpin mereka dalam mengambil kebijakan. Maka seorang servant leader dapat dipastikan mampu menerima pendapat masyarakatnya.
  3. Empati. Servant leader yang paling sukses adalah mereka yang telah memiliki keterampilan menjadi pendengar yang empatik. Pendengar yang empatik akan bekerja keras untuk memahami dan berempati kepada orang lain dan berusaha untuk memahami persepsi dan pengalaman orang lain. Dengan selalu berempati seorang pemimpin akan selalu berusaha melihat niat baik orang lain dan tidak menolaknya sebagai manusia, bahkan jika orang tersebut memang pantas untuk ditolak karena perilaku ataupun performanya. Bahkan Turmudhi meriwayatkan dari Aisyah r.a, Nabi Muhammad SAW bersabda : “Cegahlah penderitaan dalam pemberian hukuman terhadap muslim sebisa mungkin, dan jika ada jalan lepaskan dia, adalah lebih baik bagi seorang muslim untuk melakukan kesalahan karena memaafkan disbanding jika dia melakukan kesalahan dalam menghukum”.
  4. Healing (penyembuhan). Seorang pemimpin akan memiliki kekuatan yang sangat ampuh jika dia memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri dan orang lain. Setiap orang tentunya pernah dan pasti memiliki masalah tersendiri dan masalah itu mempunyai cara tersendiri untuk menyelesaikannya. Ada 3 hal yang harus dicapai seorang pemimpin dalam menyelesaikan masalahnya yaitu dia harus punya kapabilitas untuk mengetahui secara detail duduk perkara/masalah, mampu memberikan solusi terbaik yang tidak memihak dan tidak merugikan siapapun, dan yang terakhir adalah mampu menyikapi dengan baik masalah yang ada sebagai kapasitas dia sebagai seorang pemimpin. Pemimpin semacam ini mampu mengembangkan tingkat apresiasi memadai bagi kesehatan dan kestabilan emosi dan semangat anggotanya.
  5. Kesadaran Diri (awareness). Ada 2 macam kesadaran yang menjadi kriteria seorang servant leader. Yang pertama adalah kesadaran terhadap diri sendiri. Kesadaran ini bertumpu pada bagaimana seorang menyadari dirinya sebagai pemegang tanggung jawab penuh dari amanah yang diberikan dan juga mampu menyadari dirinya sebagai seorang manusia yang memimpin manusia sehingga orang yang dipimpin tidak berjalan atau bergerak selayaknya mesin yang dikendalikan secara paksa dan tanpa kompromi sedikitpun.

Iya dan Tidak, Idealisme Masyarakat Indonesia

24 Jul

Pada suatu pagi aku mencoba membuka FB (Face book) yang aku kira hanya melihat apakah ada pesan masuk atau tidak. Lalu aku menemukan suatu Note yang isinya lumayan bagus. Note itu dari seorang teman di Surabaya. Note itu bercerita tentang “pacaran”. Intinya di dalamnya berisi kejelekan pacaran yang nantinya mengarah ke pergaulan bebas, dan terjadi penularan HIV.

Benar apa yang dikatakan. Tapi aku kira solusi yang diberikan sangat pragmatis. dikatakan bahwa itu semua karena kesadaran Baca lebih lanjut