Tag Archives: Islam

Anak laki-laki bernama Raihan

30 Jul

Terinspirasi dari sebuah acara televisi, cerita ini tentang seorang anak yang bernama Raihan (nama samaran).

Beginilah cerita itu dimulai. Ada suatu keluarga yang bahagia dengan hidupnya yang sederhana. Mereka dikaruniai dua orang anak dan yang paling kecil bernama Raihan saat itu ia berumur 15 tahun.

Hari demi hari dilalui keluarga itu dengan bahagia, hingga pada suatu ketika Raihan jatuh sakit. Berminggu minggu Raihan tak kunjung Baca lebih lanjut

Dakwah, Politik dan Demokrasi

1 Jul

“Partisipasi politik di alam demokrasi, seperti sekarang kita lakukan, disamping mempunyai akar kebenaran dalam referensi Islam, juga punya makna strategis bagi proyek peradaban kita : bahwa ini adalah upaya meretas jalan bagi umat secara aman dan bebas untuk membangun dirinya, bahkan memiliki dunianya sendiri” (Anis, 2002)

Di dalam Islam, politik merupakan subsistem Islam. Merupakan sarana pula dalam menegakkan Islam. Seperti sabda Rasulullah “Barang siapa yang melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tangannya, kalau dia tidak mampu, maka cegahlah dengan lisannya, dan kalau dia tidak mampu juga, maka cegahlah dengan hati. Dan itulah selemah-lemah iman”. Bisa dikatakan sarana yang paling efektif dan efisien. Namun teori perubahan menempatkan dukungan kekuasaan itu setelah kita menyelesaikan-secara relatif- proses rekonstruksi sosial dalam tiga level : pertama adalah rekonstruksi pemikiran  dan Baca lebih lanjut

Prospeksi Dakwah di Desa(q)

27 Jun

Prospeksi apa itu ya…mungkin kata yang asing, memang itu adalah karanganku sendiri, tapi aku mengartikannya kira-kira suatu proses menuju futuhnya dakwah.

Ya, dakwah di desaku ternyata sangat menantang, aku mau cerita tentang kondisinya dulu ya…

Masyarakat di desaku sangatlah kental dengan aliran (enaknya bukan aliran ya, organisasi aja deh) tertentu yang amat menjunjung tinggi persaudaraan. Saya pikir itu bagus, baik dari konsep maupun pemahamannya. Namun, ternyata kondisi di lapangan sebaliknya, nilai-nilai Islam kurang bisa diterapkan secara maksimal (fakta yang saya lihat), maksudnya dalam penerapannya kadang mereka tidak mengindahkan syariat yang mereka yakini sendiri (Ex : anaknya masih boleh pacaran, sholat jamaahnya agak diremehkan and etc lah….). Bahkan kadang hal berbau khurofat masih dipercaya.

Masyarakatnya juga mempunyai rasa fanatik yang tinggi dengan tipikal simbolisnya, terbukti jika ada sedikit (satu atau dua orang yang berbeda cara dalam ibadah) akan di cap dan  dimusuhi bahkan terakhir ada yang dilarang mengadakan kajian. Tapi apa bila dengan sesama dan dianggap mereka orang-orang satu fikrah maka akan diikuti dengan senang hati meskipun itu kadang kurang sesuai dengan syariat.

Dari situ aku dapat mengambil hibrah (InsyaAllah) bagaimana prospeksi dakwahnya….

Nah akhirnya setelah sekian lama saya bisa melanjutkan tulisan ini.

Lanjutan…

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa kelemahan utama sesuatu itu tidak jauh dari kekuatan terhebatnya. Blak-blakan saja ya….di desaku itu orang-orangnya sangat fanatik dengan organisasinya yang sekarang. Mereka seakan tidak mau mengikuti sedikitpun pola pikir organisasi yang lain. Syarat mutlak bagi mereka yang akan diikuti pemikirannya adalah, dia adalah seorang da’i yang alumni pondok pesantren dan mempunyai guru seorang kiyai. Berpakaian layaknya kiyai.

Saya tidak pernah mengatakan bahwa ajaran para da’i maupun kiyai di desa ini salah. Sama sekali tidak, apa yang mereka pelajari semua Insya Allah sesuai dengan syariat Islam. Hanya saja entah kenapa para da’i ini tidak mengaplikasikan Ilmunya yang mereka dapat di pesantren secara total.

Saya mengatakan seperti ini bukan tanpa dasar, karena sejak kecil saya dididik mengaji oleh mereka, dan apa yang mereka ajarkan sangatlah bagus.

Lalu kalau kembali ke pembahasan di awal tadi apa hubungannya? Hubungannya adalah syarat mutlak seorang da’i yang bisa membawa desa ini menuju desa yang Islami secara Kaaffah adalah yang saya sebutkan tadi, atau sederhananya adalah menggunakan simbol (pakaian, cara dakwah, kitab-kitab) yang disukai mereka atau yang mereka memberikan legitimasi terhadapnya. Dengan begitu ketika orang itu sudah diterima, maka setelah itu tinggal mengembalikan cara dakwah kepada masyarakat yang pragmatis (kebanyakan masyarakat pedesaan) yang tipikal utama mereka adalah materi minded. Ya, logika mereka adalah logika manfaat, maka dari itu para da’i harus siap merogoh sakunya untuk dakwah, bukan memasukkan sesuatu karena dakwah….

Nah itulah saya pikir dua tahap bagaimana membuat desa yang awalnya tidak punya prospek sama sekali dalam dakwah, menjadi sebuah desa yang sangat potensial. Mungkin inilah makna kata Prospeksi yang saya ciptakan sendiri ini.

Trimakasih sudah membaca uraian tulisan yang aneh ini, ini hanyalah pemikiran seorang pemuda, pemuda yang memang sedang mencari jati diri, jadi sangat memohon kepada para pembaca untuk tidak serta merta menelan isi tulisan ini. Dan jika ada kesalahan atau mungkin berbahaya, saran dan kritik dari para pembaca sangat diharapkan.

Matematika Islam

27 Jun

Bismillahirrahmaanirrohiim…

Do you know!… About this sentence above?……

Ya, anda benar! Dan tentu kita semua (muslim) sudah tahu.

Namun apakah anda tahu keajaiban kalimat itu ya saya yakin diantara anda sudah ada yang tahu, dan tentunya juga ada yang belum tahu.

Sekarang kita mulai belajar menelusuri keajaiban kata itu. Pertama coba kita hitung jumlah huruf hija’iyah yang menyusun kalimat itu. Ya anda benar! Jumlahnya ada 19 huruf.

Yup sekarang kita tinggalkan dulu masalah itu karena inti pembicaraan kita belum mulai (he…tenang bukane mempermainkan tapi…biar penasaran). Yup! Saya akan buat perumpamaan. Misal di Indonesia ini ada uang koin dengan nilai mata uangnya Rp 19,- dan saya punya banyak sekali uang koin itu. Lalu saya masukkan koin itu ke sebuah kamar gelap. Kemudian saya menyuruh seorang anak kecil mengambilnya dengan tangan 1 genggam, dengan mangkuk, dengan bak, dengan piring. Apa yang terjadi? Tentunya dengan sedikit berfikir ala matematika kita dapat menyimpukan bahwa jumlah uang di masing-masing pengamilan adalah :

Yang 1 genggam         : n × Rp 19,-

Yang 1 mangkuk         : m × Rp 19,-

Yang 1 bak                  : k × Rp 19,-

Yang 1 piring              : p × Rp 19,-

Hal itu pasti terjadi karena tiap koin harganya Rp 19,-

(He…bingung dengan itu semua yap! Kalo bingung kita tinggalin aja)

Sekarang kita tengok sebentar tentang “Alquran” kitab yang biasanya kita hanya lafalkan tanpa tau sedikit pun artinya, terbukti juga dengan sedikit sekali rumah teman-teman yang saya kunjungi yang punya kitab Alquran sekaligus terjemahannya. Tapi kalau anda saya yakin rajin sekali membacanya.

Kalau kita lihat surat ke-9 pada Alquran (tepatnya surat At Taubah) disitu tidak Baca lebih lanjut