Tag Archives: renungan

Anak laki-laki bernama Raihan

30 Jul

Terinspirasi dari sebuah acara televisi, cerita ini tentang seorang anak yang bernama Raihan (nama samaran).

Beginilah cerita itu dimulai. Ada suatu keluarga yang bahagia dengan hidupnya yang sederhana. Mereka dikaruniai dua orang anak dan yang paling kecil bernama Raihan saat itu ia berumur 15 tahun.

Hari demi hari dilalui keluarga itu dengan bahagia, hingga pada suatu ketika Raihan jatuh sakit. Berminggu minggu Raihan tak kunjung Baca lebih lanjut

Nenek Tua Bernama Mbok Sarmi

28 Jun

sang penyayang

Ini kisah nyata, baru beberapa menit yang lalu aku melihatnya dengan mata kepala ku sendiri dan dengan hati yang terasa di sayat…

Mbok Sarmi aku memanggilnya, sekarang beliau tinggal di rumah yang lantainya dari tanah, dindingnya dari bambu, oh..sungguh sangat bertolak belakang dengan cita-cita bangsa ini yang menghendaki terangkatnya kemiskinan.

lebih dari itu aku lebih menyoroti anak-anak beliau. Sungguh seorang nenek yang baik hati, penyayang dan tulus ikhlas kepada putra-putranya, meski belum menemui ajalnya, separuh dari tanahnya diminta anaknya sebagai warisan (Naudzubillah…) sekarang rumah itupun bergeser kebelakang.

anak itupun membangun rumah tepat di depan rumah ibunya (Mbok Sarmi) dengan aura angkuh dan sombong rumah yang tinggi dan besar itu seakan menenggelamkan rumah Mbok Sarmi.

Saat ini sudah sekitar 2 tahun rumah itu berdiri, hidup berdampingan, namun sekarang rumah reyot itu semakin sempit. halaman rumah yang tadinya terang benderang sekarang menjadi sangat gelap, ada kandang ayam di belakang rumah sang anak atau dengan berat hati aku katakan di halaman rumah sang ibu, dapur yang penuh asap berada di belakang rumah sang anak, supaya rumah tetap bersih dan anak-anak mereka tidak mudah sakit, tapi dapur itu berada di depan rumah sang ibu (Mbok Sarmi) sungguh rasanya ingin menangis aku mengatakannya.

Aku sangat kasihan dengan kondisi itu, bagaimana tidak Mbok Sarmi pernah menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidupku. Aku hanya bisa berharap tidak akan ada lagi anak yang sebegitu teganya bertingkah dan berperilaku seperti itu kepada ibu kandungnya, Ibu kita bertaruh nyawa untuk sekedar melahirkan kita, memberi kita ASI setiap hari, menyeboki kotoran kita yang bau dan menjijikkan dengan tangannya, marilah kawan kita renungkan sudahkah kita membuat ibu kita “menangis” karena bangga, karena bersyukur mempunyai anak seperti kita.

Wallahu’alam…